Membaca Pramoedya Menulis Arok Dedes

Buku ini adalah karya sastra Indonesia yang berharga. Karya Pramoedya Ananta Toer yang diselesaikan dalam penjara (Pulau Buru) pada tahun 1976. Berkaitan dengan Judulnya ‘Arok Dedes’, roman ini berkisah tentang sejarah yang dimungkinkan pernah terjadi di Indonesia (Jawa).

Tidak seperti buku Pramoedya yang lain yang selalu dilarang terbit oleh Jaksa Agung, Arok Dedes terbit pertama kali tahun 1999, setelah orde baru runtuh. Jadi buku ini tidak banyak menimbulkan kontroversi karena pelarangannya itu sendiri. Harus diakui, semakin buku itu dilarang, semakin penasaran orang dibuatnya.

Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer ini memiliki kekuatan tersendiri bila dibandingkan dengan kisah Ken Arok dan Ken Dedes lain, baik berupa film maupun buku akademik sejarah. Kalau pada umumnya kisah ini identik dengan esensi mistik yang kuat, yaitu keterlibatan kesaktian keris Empu Gandring, dan kutukan tujuh turunannya, sedangkan novel sejarah Arok Dedes karya Pramoedya ini menyodorkan penjelasan lain yang lebih rasional.

Menurut versi umum dalam diktat sejarah, dan juga dalam risalah lidah kebanyakan orang, bahwa Ken Arok adalah anak dari hubungan gelap antara Dewa Brahma dan seorang perempuan desa. Oleh ibunya yang tidak menghendaki kelahirannya, Ken Arok dibuang, dan kemudian dipelihara oleh seorang penjudi yang bernama Bango Samparan. Ken Arok akhirnya menjadi perampok  yang ditakuti di wilayah kerajaan Kediri. Ken Arok kemudian bertemu dengan seorang brahmana bernama Lohgawe yang kemudian menjadi gurunya.

Lohgawe kemudian mengatur Arok agar menjadi prajurit di Pekuwuan (setara dengan Kecamatan) Tumapel yang dipimpin oleh Tunggul Ametung. Arok tertarik dengan istri Tunggul Ametung, Ken Dedes yang cantik, yang diramalkan oleh Lohgawe akan melahirkan keturunan raja-raja di Jawa. Arok meminta bantuan Empu Gandring, seorang pembuat keris, untuk dibuatkan keris pusaka yang akan dipakainya membunuh Tunggul Ametung kelak. Karena tidak sabar kerisnya belum selesai juga, Arok marah kepada Empu Gandring dan kemudian membunuhnya dengan keris yang setengah jadi. Sebelum mati, Empu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu juga akan membunuh Ken Arok dan tujuh keturunannya.

Setelah mendapatkan keris tersebut, Ken Arok mulai menjalankan rencananya menggulingkan Tunggul Ametung. Pertama-tama, dia meminjamkan keris pusakanya ke Kebo Ijo, sesama prajurit Tumapel. Kebo Ijo memamerkan keris pusaka itu di seluruh Tumapel, sehingga semua orang mengenal keris itu sebagai milik Kebo Ijo. Suatu malam, Ken Arok mengambil keris itu dan menusuk Tunggul Ametung di kamar tidurnya. Akhirnya Kebo Ijo dipersalahkan atas kematian Tunggul Ametung dan Ken Arok menjadi Akuwu baru. Ken Arok pun menikahi Ken Dedes, meskipun dia sedang hamil anak Tungul Ametung. Setelah berkuasa, Ken Arok menyerang Kerajaan Kediri dan mendirikan Kerajaan Tumapel, yang kemudian berubah nama menjadi Singasari. Kelak Ken Arok akhirnya tewas dibunuh anak tirinya, Anusapati, dengan keris Empu Gandring itu sendiri.

Begitulah cerita rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Cerita tersebut sangat berbau fantasi layaknya roman silat. Akan tetapi, keberadaan Ken Arok dalam sejarah kemungkinan besar memang benar, karena dialah yang telah meletakkan dasar pendirian kerajaan Singasari yang pernah berjaya dan runtuhnya kerajaan Kediri yang pernah sangat berkuasa.

Namun Pramoedya memakai pendekatan lain. Dia menulis novel Arok Dedes dengan mengambil jarak terhadap mitologi dan fantasi dari cerita rakyat. Arok Dedes ditulisnya sebagai sebuah roman politik Jawa abad pertengahan, yang berkisah mengenai kudeta. Arok, diceritakan oleh Pram, adalah seorang yang cerdas, kuat, dan pemberani dari kasta sudra yang tak jelas keturunannya, yang kemudian menjadi Brahmana setelah ditasbihkan oleh Lohgawe.

Lohgawe yang merupakan Brahmana Syiwa, telah lama tidak puas dengan berkuasanya wangsa (dinasti) Isana (terutama kerajaan Kediri) yang beragama Hindu Wisnu. Arok yang senang merampok prajurit Kediri dan Tumapel, disiapkan oleh Lohgawe untuk menjadi penguasa baru menggantikan Wangsa Isana agar bisa memuliakan kembali Dewa Syiwa. Strategi pertama yang disiapkan adalah kudeta terhadap Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel sebagai daerah jajahan Kediri.

Tunggul Ametung dibenci oleh para brahmana selain karena dia Wisnu yang tak berpendidikan, juga karena dia telah menculik Dedes, anak Empu Parwa, begawan Syiwa yang sangat berpengaruh, untuk dijadikan istrinya. Tunggul Ametung makin hari makin geram karena banyak kawanan pemberontak dan perampok menyerang pasukannya. Kawanan perampok yang bergerilya tersebut adalah anak buah Arok yang ditugaskan untuk mengacaukan stabilitas Tumapel.

Lohgawe sebagai seorang brahmana berpengaruh, menganjurkan Tunggul Ametung agar menerima Arok sebagai prajurit yang akan meredam kerusuhan dari para pemberontak. Tunggul Ametung, meski curiga akan keyakinannya yang Syiwa, tidak menyadari bahwa Arok adalah otak di balik segala kerusuhan tersebut. Dedes pun dibuat terpesona oleh pengetahuan Arok akan ilmu dan bahasa. Lama kelamaan, pasukan Arok semakin berkuasa di Tumapel, dan Arok menjadi sangat berpengaruh dalam kotapraja Tumapel.

Semakin berpengaruh dalam pemerintahan, Arok semakin sadar bahwa bukan hanya dia seorang yang mempunyai rencana untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Ada Empu Gandring, ahli senjata, yang menyusupkan pengaruhnya dalam pasukan Tumapel untuk melakukan kudeta. Ada pula Yang Suci Belakangka, pendeta yang merupakan wakil resmi dari Kediri di Tumapel, yang menjagokan seorang tamtama bernama Kebo Ijo, untuk menggantikan Tunggul Ametung apabila sudah digulingkan.

Arok mengatur taktik dan strategi untuk melenyapkan mereka, sekaligus melenyapkan Tunggul Ametung tanpa secara frontal melakukannya sendiri. Dengan dibantu Dedes, Arok dapat melenyapkan Empu Gandring dan memecah belah pasukannya. Dia juga menangkap Yang Suci Belakangka. Kebo Ijo pun masuk perangkap Arok dan akhirnya dianggap sebagai tersangka utama yang membunuh Tunggul Ametung ketika tidur. Arok diangkat oleh Lohgawe sebagai Akuwu Tumapel yang baru setelah Tunggul Ametung tewas.

Membaca Arok Dedes, tidak bisa tidak saya langsung terbayang skenario Indonesia tahun 1965, dimana keadaan genting negara ini saat itu sangat menentukan perkembangan bangsa ini hingga masa mendatang. Saat itu Indonesia yang dipimpin Soekarno, marak akan kerusuhan dan pamer kekuatan. Ada banyak pihak yang diam-diam ingin menggulingkan Soekarno, baik luar maupun dalam negeri. Ada banyak pihak yang menunjukkan kekuatannya, baik kalangan komunis maupun kalangan agama. Ada juga pihak yang menyusun strategi agar bisa berkuasa tanpa terlihat seperti pihak yang menodongkan senjata untuk melakukan kudeta.

Mungkin kesamaan ini tidak disengaja. Justru disinilah pentingnya karya Arok Dedes. Dia bisa menjadi aktual pada segala jaman dan tatanan politik. Seolah roman ini adalah sebuah panduan praktis untuk melakukan kudeta. Ada agitasi, propaganda, dukungan logistik, pertautan kepentingan politik, permainan opini publik, dan spionase yang dibutuhkan untuk sebuah kudeta yang sukses. Itulah kenapa Arok Dedes sukses sebagai sebuah roman politik.

Sebagai sebuah roman sejarah, Pramoedya menunjukkan kelasnya. Memang Ken Arok dan Tunggul Ametung hanya muncul dalam kitab Pararaton, yang diperkirakan terbit pertama kali pada abad 13, yang sangat penuh mitologi dan fantasi. Akan tetapi Ken Arok sangat besar kemungkinan ada dalam sejarah, mungkin dengan nama yang lain. Jejak peradaban yang dibangun Ken Arok atau siapa pun namanya, terbentang luas sampai berdirinya Majapahit. Ken Arok lebih dekat kepada fakta daripada tokoh-tokoh seperti Angling Darma atau Damar Wulan yang hanya merupakan mitologi Jawa dan murni fiksi.

Kekuatan historis dalam novel ini pun layak dibanggakan, di mana Pram secara fasih menggambarkan silsilah Wangsa Isana, juga menggambarkan sejarah Mataram dan Bali. Dalam suatu kesempatan, Pram bercerita mengenai seorang Empu Sedah, seorang jenius otodidak yang menulis Bharata Yudha yang agung, hanya untuk kemudian dihukum pancung oleh Raja Jayabaya pada usia 25 tahun. Atau dalam kesempatan lain Pram bercerita mengenai sejarah pemisahan negeri Kediri menjadi Daha dan Jenggala karena konflik antara dua keturunan Airlangga yang saling memusuhi. Kerangka waktu, fakta geografis, dan penokohan dalam sejarah diceritakannya dengan keakuratan yang cukup mencengangkan.

Harus diingat, Pram menulis roman sejarah ini di Pulau Buru nan terpencil, tanpa alat tulis yang layak, tanpa perpustakaan, pun tanpa Internet yang kala itu belum sepopuler sekarang. Saat itupun Pramoedya masih berstatus seorang tahanan, tidak seperti penulis bebas yang mempunyai segala hak untuk berekspresi. Dia ternyata hafal sejarah Nusantara di luar kepala. Bukan hanya itu, dia juga hafal latar belakang sosial dan politik yang mendasari terbentuknya sejarah tersebut.

Dalam menulis novel sejarah ini, Pramoedya menolak pendekatan mistis yang dipakai dalam penulisan tradisional Jawa, yang bahkan juga telah masuk dalam kurikulum pendidikan sejarah nusantara di sekolah-sekolah. Misalnya, kutukan keris Empu Gandring sampai tujuh turunan, dan Ken Dedes yang memiliki mata kaki yang bersinar yang menyilaukan pandangan Ken Arok. Pram menolak semua itu, dan mengajukan hipotesis yang meskipun sama-sama kabur faktanya, lebih logis dan mudah diterima akal sehat. Jadilah Arok Dedes menjadi roman politik berlandaskan sejarah, bukan hanya dongeng rakyat menjelang tidur.

Apa yang dilakukan Pramoedya menurut saya bukanlah revisionisme. Apa yang mau direvisi apabila sejarahnya sendiri kabur? Pram justru meletakkan dasar baru untuk historiografi. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah oleh sejarawan, mengingat tokoh-tokoh dalam buku ini tidak memiliki nama asli, seperti Tunggul Ametung, Ken Arok, Lohgawe, dan lain-lain.

Mengingat ini sebuah novel politik, Pramoedya tetap mempertahankan wilayah abu-abu untuk interpretasi. Dalam politik, tidak ada baik ataupun buruk, hitam ataupun putih. Dalam politik hanya dikenal yang kalah dan yang menang. Apakah Arok seorang pahlawan, ataukah dia seorang pembunuh berdarah dingin? Apakah Arok orang yang licik, atau dia orang yang bijak? Jawabannya bisa dua-duanya. Arok adalah perampok sekaligus brahmana yang tekun belajar agama. Arok adalah pejuang sekaligus penjahat perang. Arok adalah gabungan antara kasta Sudra, Satria, dan Brahmana sekaligus. Arok adalah seorang Buddha, pemuja Syiwa, juga pemuja Wisnu sekaligus. Arok, seperti pemenang lain dalam sejarah, adalah sebuah kontroversi. Dalam buku ini, Arok adalah pemenang, tapi suatu saat dia akan menjadi pecundang. Saat itulah ketika sejarah berbalik membencinya.


cover arok dedesJudul: Arok Dedes

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Hasta Mitra, 1999

Segera dapatkan bukunya. Klik di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s