Sastra dan Kemiskinan

Penularan Jassin

Kemiskinan tidak akan pernah lenyap! Para sastrawan salah satu pihak yang membuat kemiskinan terus ada dan abadi. Ini terlihat dari banyaknya karya sastra yang menjadikan kemiskinan sebagai keuntungan untuk mendapatkan perhatian pembaca: tangisan, obrolan, simpati dan ketagihan. Sekian orang menyebutnya sebagai bentuk kepedulian sastrawan terhadap keadaan masyarakat miskin. Jassin baragkali dapat dimasukkan dalam bagian ini. Karena dalam cerpen-cerpennya narasi sendu kemiskinan dan kemelaratan tampak dominan. Meskipun tak seheroik seperti pengkisahan Pram dan tokoh Lekra.

Kita bisa simak kisah kemiskinan dalam cerpen berjudul Antara Si Lemah. Cerpen berkisah tentang seorang tukang sapu di pasar yang membutuhkan uang untuk membelikan obat anaknya. Kebingunan ini juga terjerat aturan bahwa ia tak boleh meminjam uang kepada para pedagang di pasar. “Beberapa hari kemudian, ada malam hari si Maman datang ke rumah menteri pasar. Anaknya sudah meninggal. “Alhamdulillah” katanya. Istrinya akan disuruhnya pulang ke udik dahulu, sampai ia mendapatkan pekerjaan lagi. Selama itu ia akan…

View original post 371 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s